2 Proses Kimia Utama Pemicu Kerusakan Rambut
Rambut rusak bisa disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah proses kimia. Artikel ini mengulas dua proses kimia utama yang sering memicu kerusakan rambut, yaitu pewarnaan dan pelurusan, beserta ciri-ciri dan cara mengatasinya.
Rambut sering disebut sebagai mahkota karena penting untuk penampilan serta meningkatkan rasa percaya diri seseorang. Kerusakan rambut merupakan kondisi ketika helaian rambut kehilangan kelembapan, elastisitas, dan kekuatan alaminya.
Ciri-ciri rambut rusak meliputi tampak kusam, bercabang, mudah patah, dan sulit diatur. Berbagai faktor dapat memicu kondisi ini, termasuk paparan lingkungan, kebiasaan perawatan, dan penggunaan bahan kimia.
Memahami dampak proses kimia pada rambut adalah langkah awal untuk menjaga kesehatannya. 2 proses kimia utama yang sering menjadi penyebab rambut rusak adalah pewarnaan/bleaching dan pelurusan/pengeritingan rambut.
1. Pewarnaan dan Bleaching Rambut
Proses pewarnaan dan bleaching rambut melibatkan penggunaan bahan kimia kuat seperti amonia dan hidrogen peroksida. Bahan-bahan ini dapat merusak struktur rambut dan kulit kepala.
Oksidasi yang terjadi saat pewarnaan mampu mengubah struktur protein keratin, yang vital untuk menjaga kekuatan dan elastisitas rambut.
Pewarna rambut permanen bekerja dengan menghilangkan pigmen melanin alami dari batang rambut, lalu menciptakan molekul warna baru di dalamnya. Perubahan ini secara langsung memodifikasi struktur rambut.
Bleaching berulang dapat menyebabkan lapisan kutikula rambut terangkat dan tidak lagi melindungi bagian dalam rambut secara efektif, membuat rambut menjadi lebih porus.
Kesalahan seperti bleaching sampai ke akar rambut atau membiarkan cat rambut terlalu lama juga bisa menyebabkan kerusakan pada kulit kepala dan kutikula.
Rambut yang rusak akibat proses ini akan tampak kering, kusam, rapuh, bercabang, dan mudah patah.
Tekstur rambut terasa lebih kasar atau kaku, tidak selembut biasanya, karena struktur protein di batang rambut terganggu. Rambut juga kehilangan kilau dan kelembutannya, bahkan bisa mengalami kerontokan berlebihan.
Pada kasus yang parah, rambut bisa terasa seperti karet.
Untuk mencegah dan mengatasi kerusakan, berikan jeda yang cukup antar proses pewarnaan, misalnya menunggu hingga 10 minggu, dan warnai hanya bagian akarnya jika memungkinkan.
Pilihlah produk pewarna rambut yang diperkaya dengan bahan alami seperti almond oil, olive oil, atau coconut oil.
Penggunaan kondisioner secara rutin penting untuk menjaga kelembapan rambut, terutama setelah pewarnaan.
Lakukan perawatan intensif seperti penggunaan hair mask dan creambath yang mengandung protein serta bahan pelembap secara teratur.
Lindungi rambut dari paparan sinar UV dengan menggunakan topi atau produk pelindung UV saat beraktivitas di luar ruangan.
Konsultasikan dengan stylist profesional untuk mendapatkan saran perawatan yang tepat sesuai kondisi rambut.
2. Pelurusan dan Pengeritingan Rambut Kimia
Proses pelurusan atau pengeritingan rambut secara kimia, seperti smoothing, rebonding, atau perming, melibatkan penggunaan bahan kimia kuat seperti tioglikolat atau formaldehid.
Bahan kimia ini bekerja dengan memecah ikatan disulfida di dalam korteks rambut, yaitu struktur alami yang menentukan bentuk rambut.
Proses tersebut secara signifikan melemahkan struktur internal rambut, menjadikannya lebih rentan terhadap kerusakan.
Kombinasi penggunaan bahan kimia dengan paparan panas tinggi dari alat catok selama proses pelurusan dapat memperparah kerusakan.
Bahan kimia ini juga menghilangkan kelembapan alami rambut, menyebabkan rambut menjadi kering.
Beberapa orang mungkin mengalami iritasi, gatal, atau perih pada kulit kepala akibat reaksi terhadap bahan kimia yang digunakan.
Ciri-ciri rambut yang rusak akibat proses ini meliputi kondisi kering, rapuh, mudah patah, dan bercabang.
Rambut kehilangan kelembapan esensial, protein, dan nutrisi penting, sehingga tampak kusam dan tidak sehat. Tekstur rambut menjadi kasar, tidak lembut, dan sulit diatur, seringkali terlihat mengembang atau frizzy.
Peningkatan jumlah rambut rontok juga bisa terjadi karena folikel rambut melemah.
Sebagai solusi dan pencegahan, hindari penggunaan bahan kimia pada rambut secara berlebihan dan berikan jeda waktu yang cukup antar perawatan.
Gunakan produk perawatan rambut yang lembut, hindari sampo yang mengandung sulfat, silikon, dan alkohol. Minimalisir penggunaan alat styling panas dan biarkan rambut mengering secara alami sebisa mungkin.
Rutin mengaplikasikan kondisioner, hair mask, dan serum untuk mengembalikan kelembapan serta protein rambut. Pilihlah hair mask yang diformulasikan khusus untuk memperbaiki kerusakan akibat bahan kimia.
Potong bagian rambut yang rusak secara rutin untuk menghilangkan kerusakan permanen dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Hindari keramas terlalu sering, disarankan 2-3 kali seminggu, untuk menjaga minyak alami pelindung rambut. Selain itu, hindari menyisir rambut saat basah dengan kasar atau mengikat rambut terlalu kencang.
Penerapan strategi perawatan yang tepat dan penggunaan bahan kimia secara bijak penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada rambut.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli perawatan rambut untuk mendapatkan saran dan solusi yang sesuai dengan kondisi rambut.
Disusun dengan bantuan penelusuran web dari: lumbungpare.org, alodokter.com, lombokbaratkab.go.id, hellosehat.com, tempo.co, kompas.com, lemon8-app.com, popmama.com.
